Sejarah Kotagede

Enam abad setelah Kerajaan Mataram Hindu memindahkan pusat kekuasaannya ke Jawa Timur, pulau Jawa dikuasai oleh Kesultanan Pajang yang berpusat di Jawa Tengah. Karena keberhasilan Ki Gede Pemanahan menaklukan musuh kerajaan, beliau dihadiahi Alas Mentaok oleh Sultan Hadiwijaya. Selanjutnya, desa kecil yang didirikan di hutan tersebut menjadi makmur. Di bawah kepemimpinan Senapati Ingalaga yang merupakan anak dari Ki Gede Pemanahan, desa tersebut tumbuh menjadi kota yang semakin makmur dan ramai hingga disebut Kotagede atau kota besar. Hingga akhirnya, Kotagede menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Mataram Islam.

Peninggalan Sejarah

Meskipun tak lagi menjadi ibukota kerajaan, Kotagede tetap ramai dan masih dapat dijumpai berbagai peninggalan sejarahnya seperti:

  • Pasar Kotagede

Pasar tradisional ini merupakan pasar tradisional tertua di Yogyakarta karena dibangun pada abad XVI. Pasar yang konon sudah lebih dulu ada dibanding Kerajaan Mataram Islam ini lebih dikenal dengan sebutan Pasar Legi karena selalu lebih ramai didatangi pembeli saat hari legi (hari penanggalan Jawa).

  • Kompleks Makam Pendiri Kerajaan

Kompleks ini berjarak sekitar 100 meter dari Pasar Kotagede. Untuk memasuki kompleks, kita harus menggunakan pakaian adat Jawa yang bisa disewa. Disini terdapat makam Sultan Hadiwijaya, Ki Gede Pemanahan, Panembahan Senapati, dan anggota keluarga kerajaan lainnya.

  • Masjid Gede Kotagede

Dibangun pada tahun 1640 oleh Sultan Agung dan dibantu oleh masyarakat setempat yang kala itu masih beragama Hindu dan Budha. Masjid ini dibangun dalam dua tahap. Tahap pertama dilakukan oleh Sultan Agung dan tahap kedua dibangun oleh Paku Buwono X.

  • Reruntuhan Benteng

Dibangun oleh Panembahan Senapati lengkap dengan parit pertahanan di sekeliling keraton. Luas reruntuhan mencapai 400 x 400 meter dan temboknya sendiri memiliki ketebalan mencapai 1,2 meter dan terbuat dari bongkahan batu besar yang kokoh.

  • Permukiman Tradisional Kotagede

Berada persis di seberang Kompleks Makam, terdapat rumah-rumah tradisional Kotagede yang masih terawat sangat baik dan berfungsi sebagai rumah tinggal. Permukiman ini sudah ada sejak tahun 1840.

  • Wisata Kerajinan Perak

Berawal dari Panembahan Senapati yang memerintahkan abdi dalem kriya untuk membuat perhiasan dari perak untuk memenuhi kebutuhan para ningrat dan setelahnya, keahlian membuat cinderamata dari perak telah turun-temurun. Kerajinan ini tidak hanya menarik minat di dalam negeri saja, namun juga diminati oleh orang-orang dari Eropa. Kini, wisatawan baik dari dalam maupun luar negeri masih berdatangan untuk melihat kerajinan perak.

Di Kotagede, kita dapat melihat secara langsung reruntuhan Kerajaan Mataram Islam. Penasaran kan?